Friday, 9 March 2012

Perjuangan Dalam Sepotong Risoles


Sore tadi, diiringi rinai hujan (tsaaahhh), sambil membuat kulit risoles, jadi inget sebuah cerita risoles beberapa tahun lalu waktu kami masih di negeri seberang..

Ceritanya, waktu itu dapat pesanan 400 buah risoles. Sebenarnya untuk jumlah sebanyak itu tidak terlalu berat, alhamdulillah sudah terbiasa untuk membuat risoles 100/200/300 biji, hingga ketika menerima pesanan sebanyak 400 langsung percaya diri.. Hanya saja saat itu waktunya berdekatan dengan acara bazaar tujuh belasan dimana saya juga ikut buka lapak siomay dkk..

H-10 mulai mencicil belanja kebutuhan bazar. Lalu mulai mencicil juga bikin siomaynya. Alhamdulillah walaupun dikerjakan oleh 2 pasang tangan saja, 1.000 buah siomay selesai dalam waktu 6 hari.

Selanjutnya, mulai mencicil untuk risoles, mencincang berkilo-kilo ayam fillet, wortel, kentang dan mendadar kulit dengan hanya 2 wajan saja ...sesuatu banget deeh :).... Alhamdulillah selesai dalam 3 hari dan selanjutnya semua sudah berdiam manis di kulkas dan freezer kami. H-1 sebelum bazar sibuk belanja kebutuhan untuk di lapak besok, berikut setting barang di arena bazar.

Pagi-pagi sebelum berangkat ke bazar, goreng beberapa risoles untuk sarapan. Loh kok ragoutnya BASI ??? Mencoba tenang,ambil sampel beberapa lagi, dicoba ragoutnya beberapa ada yang basi, beberapa tidak. Wah! Langsung didera PANIK level 10. Belum pernah mengalamÍ kejadian basi semua, bagaimana tidak, hari itu seharian akan bazar sampai magrib nanti. Sudah begitu keesokan paginya 400 risoles pesanan itu harus digoreng dan dihantarkan untuk hidangan selepas upacara tujuh belasan.

Saya akhirnya menangissss... Membayangkan 'linu' harus membuang 400 buah risoles.  Kami tidak mau ambil resiko walaupun tidak semuanya mungkin basi. Sudah begitu waktunya hanya tinggal sehari saja. Tapi kalau menyerah dan memberitahu pemesan bahwa pesanan risolesnya gagal kok ya hati lebih pedih lagi. Terbayang kredibilitas yang tergadaikan..

Untungnya suami saya bisa menenangkan. Sambil mengusap-usap punggung saya dia langsung ambil inisiatif untuk mengantar saya ke tempat bazaar agar saya bisa set up dagangan. Kemudian dia pergi ke pasar beli bahan-bahan kebutuhan risoles dari catatan yang saya berikan (hikmahnya suami mau diajak ke pasar, jadi tau dimana langganan istrinya belanja ..hehehe..). Dari pasar suami pulang mengantar belanjaan, asisten di rumah mulai menyiapkan isi risoles dengan dibantu oleh ibu mertua (yang kebetulan sedang datang dari Indonesia).

Sejujurnya di tempat bazaar pikiran saya melayang-layang ke rumah. Sanggup tidak ya kami menyelesaikan 400 biji risoles?? Rasanya saya pingin sekali cepat pulang untuk bantu menyelesaikan risoles.

Alhamdulillah ...di tempat bazar dapat tenaga bantuan dari 2 orang mahasiswa dan seorang kawan yang datang dari Batam ( Dandyyyy ....muahhhh...makasih ya). Jam 03.00 sore walaupun baru terjual 80% saya memutuskan untuk menyelesaikan bazar hari itu. Sisanya saya bagi-bagi untuk para PLRT di penampungan.Yang penting saya ingin cepat pulang!

Sesampainya di rumah, syukur alhamdulillah sudah selesai hampir separuhnya.Tutup mata pada keadaan rumah yang seperti ketiup angin, karena barang-barang perlengkapan bazar yang belum sempat dibersihkan. Saya langsung mandi dengan harapan supaya badan lebih segar dan ada tenaga ekstra untuk menggarap separuh risoles yang dibutuhkan.
Waktu itu hampir jam 06.00 sore. Tak putus kami bekerja sampai akhirnya 400 bij risoles selesai dikerjakan dan langsung digoreng. Jam 06.00 pagi, suami meluncur ke Chartsworth Road untuk mengantarkan risoles-risoles itu..

Alhamdulillah....legaaaa. ya Allah SWT telah memberikan kekuatan yang luarrrrr biasa buat kami pada hari itu. Hitung-hitungan di atas kertas sepertinya tidak mungkin di tengah sebuah kegiatan besar bisa menyelesaikan 400 buah risoles. Tapi dengan niat dan usaha semaksimal mungkin untuk memenuhi janji kepada customer, puji syukur alhamdulillah Allah memudahkan semuanya.

Walaupun dengan kejadian itu, keuntungan dari risoles melayang untuk pembuatan risoles ulang, tapi buat kami yang terpenting adalah pelajaran yang bisa diambil dari kejadian itu :
- Lebih memperhatikan kapasitas kulkas. Ragout yang basi kemungkinan adalah karena kulkas yang tidak begitu dingin disebabkan isinya yang penuh ( risoles+siomay)
- Sepede apapun dengan bahan dan proses pembuatan yang terjaga, tetap lakukan sampling sebelum hari H (jika makanan-makanan itu dibuat dalam jumlah yang banyak dan pengerjaannya butuh beberapa hari)
- Jika ada suatu masalah, jangan panik. Berusaha maksimal untuk recovery actionnya

Beberapa hari berikutnya, handphone saya berbunyi, ternyata dari pemesan risoles itu: "Bu, minggu depan saya pesan pastel 800 buah ya, bisa kan?"
Tanpa berpikir panjang saya menjawab, " Insya Allah bisa bu"
Begitu telepon ditutup, saya baru merasa pengen pingsan.. haaah?? DELAPAN RATUS???
( tapi pingsannya ga jadi ding, begitu inget lembaran dollarnya hehe..)
Alhamdulillah Allah memberikan 'ganti' dari keuntungan risoles yang hilang, kalau saya menyerah waktu itu mungkin sang customer jadi kapok buat pesan ke saya lagi..

                    ****
A Duddy,,,makasih ya buat dukungan yang tak putus-putus selama ini. Mulai dari nemenin ke pasar, bantu-bantu motong ayam dll. Sukarela 'dipaksa' cuti kalau pas ada pesanan banyak di hari kerja. Sampai nemenin nganterin pesenan. Jadi driver dan tukang angkut-angkut juga. Terima kasih juga sudah jadi kritikus tester masakan istrinya :) .....Jazakallah khairan katsiro...


Pengirim  : Ellen Widyasari
Domisili   : Jakarta

No comments: