Thursday, 22 March 2012

Castle Cake Disaster

Ga nyangka akhirnya saya harus bercerita juga pada teman-teman semua, curhat tentang kejadian yang sangat membuat stress yang saya alami pada Hari Sabtu minggu lalu. Setelah 2 tahun serius bakulan, baru pertama kali itulah saya mengalami sebuah masalah.

2 minggu yang lalu, saya mendapat sebuah order untuk membuat sebuah Cake Ulang Tahun yang bertema Princess Castle dari seseorang bernama “Mbak C” untuk keponakannya, “Baby M”, yang akan merayakan ulang tahun ke-1. Serta merta saya terima tawaran tersebut, karena jadwal untuk tgl tersebut kebetulan masih kosong dan saya sendiri sudah beberapa kali membuat cake dengan tema tersebut.
Castle cake yang diminta kali ini yang dicover dengan buttercream, karena pemesannya tidak menyukai fondant. Oke saja, karena saya juga pernah membuat Castle Cake dengan buttercream sebelumnya.

Well, tanpa banyak tawar-menawar, ibu dari anak yang berulang tahun (sebut saja "Bunda N") juga menyetujui pesan Mbak C kepada saya. Harga disepakati, detail diberikan oleh pemesan, seperti base cake yang diminta adalah Vanilla Sponge Cake dengan filling Strawberry Choco Mousse.
Ukuran main castle diameter 22 cm, dan semua towernya juga terbuat dari cake yang sama (tidak mau dari dummy). Topper princess minta terbuat dari plastik supaya bisa disimpan dan dimainkan. Minta didelivery ke daerah Mampang pada Hari Sabtu, 17 Maret 2012, pukul 14.00 WIB harus tiba di tempat, karena acara ultah akan dilaksanakan pada pukul 16.00 WIB. Semua deal, pembayaran pun ditransfer 5 hari sebelum Hari-H, dan kurir sudah confirm untuk menjemput pada Hari -H pukul 12.00 WIB.

Karena jadwal yang sangat padat minggu lalu, baru pada H-2 saya mulai bisa menyiapkan pernak-pernik seperti memotong styrofoam untuk cake board base. Dibuat tebal 4 cm karena akan menahan tiang tower. Membuat lubang pada cake board, menyiapkan impraboard sebagai penahan tengah untuk tower, menyiapkan pita-pita, membor para topper princess agar bisa diberi tusuk lidi dan ditancapkan ke cake, menyiapkan customized cake box agar tingginya cukup untuk cake tersebut (yang menurut perkiraan saya tingginya akan menjadi sekitar 30 cm).

H-1 siang menjelang sore (setelah menyelesaikan orderan yang lain), saya mulai memanggang dan membuat base cake untuk main castle dan memotong cake untuk tower, lengkap dengan lapisan buttercream siramnya. Assembly (menyusun cake menjadi sebuah castle) tidak saya lakukan malam itu karena kulkas saya yang penuh tidak dapat memuat cake tersebut dalam keadaan sudah terpasang.
Jadi saya memutuskan untuk meng-assembly-nya beberapa jam sebelum dipick-up oleh kurir, supaya saya bisa mengeluarkan sementara sebagian isi kulkas untuk beberapa menit saja agar castle cake yang sudah diassembly bisa disimpan di kulkas sambil menunggu si kurir datang.

Namun anehnya, sejak pembuatan tower masalah mulai muncul. Tower yang tidak mau tegak meskipun sudah diberi dowel dan tulang di tengahnya (yang menancap dari atas), menembus impraboard yang saya letakkan di dasar tower, tengah, dan atas (yang bertujuan untuk mengokohkan posisi tulang dan membuat towernya tetap tegak). Namun satu tower pecah cake-nya karena dowel yang terpasang miring dan merobek cake. Terpaksa diganti dengan cake spare (untung masih ada cukup spare saat itu).

Kemudian masalah juga timbul dengan saya yang tiba-tiba teringat belum membeli ice cream cone yang akan digunakan sebagai tower roof (atap tower). Semua supermarket di sekitar rumah yang biasanya menjual ice cream cone, anehnya hari itu semua sedang tidak menjual (kosong). Terpaksa ayah saya pergi ke supermarket yang agak jauh dengan menggunakan ojek malam itu juga.
Jadilah itu ice cream cone termahal yang pernah saya beli, karena ice cream cone yang biasanya hanya seharga Rp. 6.000,00 menjadi Rp. 28.000,00 (yang Rp 22.000,00 adalah ongkos ojek bolak-balik).

Masalah lain juga saya hadapi dengan butter cream siram yang selalu salah konsistensinya. Bukan sekali-dua kali saya membuat cake dengan butter cream siram dan biasanya saya senang mengerjakannya karena cepat dan mudah. Namun kali ini, saya harus mengulang berkali-kali karena konsistensi butter creamnya selalu salah. Kalau tidak terlalu encer sehingga terlalu tipis lapisannya pada cake, butter cream (BC) itu sudah terlalu dingin sehingga langsung set begitu dituang dan tidak dapat mengalir, sehingga ada saja bagian yang masih tidak tercover dengan baik.
Saat cake diketuk-ketuk perlahan BC tetap tidak mau mengalir, padahal pinggiran cake sudah ditumpulkan. Saat diketuk agak keras, mousse yang digunakan untuk filling dan memoles bagian luar sedikit sebelum disiram BC, malah rontok. Bayangkan, ada 4 bagian cake (1 main cake dan 3 tower) yang harus saya buat berulang-ulang.
Asisten saya yang membantu malam itu (kebetulan adik), sudah sangat gelisah karena anaknya yang ikut ada di situ sudah rewel ingin pulang. Belum lagi suaminya yang setiap 15 menit sekali menelpon apakah pekerjaan membantu saya sudah selesai. Duh… saya benar-benar bingung, kenapa banyak sekali masalah yang timbul dengan pembuatan cake kali ini.

Pekerjaan baru selesai jam 22.00 WIB yang seharusnya sudah selesai sejak sore. Ya karena pakai acara muter-muter cari ice cream cone dan harus beberapa kali mengulang pekerjaan menyiram dengan BC yang tidak kunjung sempurna hasilnya (saya tidak mau menyerahkan cake kepada customer apabila hasilnya belum maksimal).

Pekerjaan baru kami lanjutkan keesokan paginya, jam 08.00 WIB setelah selesai dengan urusan anak (mandi, makan dsb). Pagi ini masih harus merapikan siraman BC untuk 1 buah tower lagi, lalu mulai assembly. Akhirnya tower berhasil dicover dengan sempurna dan mulailah pekerjaan assembly.
Cake dan tower mulai disusun, dan masalah mulai datang lagi. Saya lupa melubangi impra board yang menjadi alas main cake supaya tulang tower yang berada diatas cake dapat menembus hingga styrofoam di bawah cake board. Karena semua sudah jadi, saya berpikir tidak apa-apa tulang tower hanya menembus cake, dan berharap semoga cukup kuat.

Assembly selesai, hiasan selesai tinggal meletakkan tulisan happy birthday pada cake. Tulisan terbuat dari fondant, dan karena cake masih akan saya simpan di kulkas sementara menunggu jemputan oleh kurir, maka tulisan belum saya pasang (karena memasang tulisan hanya sekitar 5 menit max.) Huruf-hurufnya sudah saya siapkan dan keringkan sejak kemarin. Belum saya foto, karena menunggu untuk dipasang tulisan terlebih dahulu.

Pukul 12.30 WIB, kurir yang sedianya pick-up jam 12.00 WIB belum tiba juga. Saya masih tenang, karena Hari Sabtu, saya pikir jalanan di Jakarta tidak akan separah hari kerja. Bunda N menelpon saya, menanyakan apakah kurir sudah jalan untuk mengantar pesananannya. Saya bilang belum datang, mungkin sebentar lagi.
Saya meminta mbak pemesan agar tenang, Insya Allah pesanannya tiba tepat waktu, atau paling tidak, sebelum acara dimulai. Setelah telpon ditutup, aku keluarkan cake-nya dari kulkas, langsung pasang tulisan HBD-nya, masuk kulkas lagi. Nggak lama kurir datang.
Ndilalah.. huruf pada tulisan HBD ada yang patah, dan baru terlihat oleh saya dari luar kulkas (yang sebenarnya adalah showcase dengan pintu kaca). Jadi saya minta kurir utk menunggu sebentar, saya buatkan lagi huruf yg patah tersebut. Selesai....sedikit terburu-buru, saya keluarkan cake dari kulkas untuk difoto dan dikemas. Lalu….

Gubraaakkk…!!! Allaahu akbar…!!

Saya menabrak meja dan cake yang sudah ada ditangan saya terjatuh, hancur berantakan.

Kurir yang sedang menunggu di luar sontak berdiri mendengar teriakan saya. Asisten (adik saya) langsung diam ternganga. Panik langsung menyerang kami semua. Cake-nya hancur… sudah hampir pukul 13.00.. aduh…

Langsung saya berlari keluar, bertanya pada kurir “Mas, bisa tunggu ga? Cake-nya jatuh, hancur. Saya harus buat lagi. Tunggu ya, Mas..” Tapi sang kurir menolak, dengan alasan dia masih ada jadwal mengambil orderan lain. Tentu saja saya tidak bisa menahan mereka lebih lama, jadi akhirnya saya biarkan kurirnya pergi. Meski panik, saya tergugah dan langsung bergerak cepat.
Pertama, saya minta ayah saya (suami saya dinas di luar kota, jadi tidak bisa membantu) untuk membelikan lapis surabaya (lapsur) di toko kue terdekat. Ga mungkin saya harus baking lagi. Saya dial nomor telpon Bunda N, dengan suara sedikit gemetar tapi berusaha tenang, saya jelaskan dengan singkat kejadian yang baru saja menimpa.
Jelas terdengar Bunda N juga panik dia bertanya “Terus gimana, Bu??” Saya jawab “Tenang ya, Bunda, saya akan berusaha perbaiki. Kurirnya sdh pergi, nanti saya sendiri yang akan antar kesana. Bunda tenang ya..” padahal saat itu saya juga sedang gemetaran, dag dig dug, karena saya harus menyelesaikan semua ini dalam waktu 1 jam, mengingat perjalanan dengan mobil pastinya akan lebih lama daripada motor karena kemacetan yang terjadi di daerah tempat tinggal saya.

Lalu saya langsung mengambil styrofoam dan memotongnya. Melubangi cake board yang baru, dan menempelkannya pada styrofoam. Asisten merapikan cake yang hancur berantakan, dan mencoba menyelamatkan pernak-pernik yang masih bisa digunakan dan membersihkannya.
Baru teringat bahwa saya lupa meminta ayah untuk membeli bolu gulung (bolgul) sebagai pengganti tower. Saya minta asisten meminjam motor tetangga dan pergi membeli bolu gulung. Sementara itu saya berpacu dengan waktu untuk membuat butter cream baru, menyiapkan pernak-perniknya, dsb.

Kira-kira 15 menit kemudian, ayah saya kembali dengan lapsur. Saya masih berkutat dengan pernak-perniknya. Lalu adik saya datang dengan bolgul. BC siap, lalu saya poles lapsur dan bolgulnya.  Saya minta asisten menyiapkan huruf-huruf untuk tulisan HBD-nya.
Gemetaran seluruh tubuh saya, bahkan adik saya seperti sudah kehilangan gairah untuk bergerak. Saya terus memacunya untuk bekerja lebih cepat. Aduh, bolgulnya ga mau berdiri, meskipun sudah diberi tulang dari sumpit. Lapsur kebesaran, menutupi lubang yang kusiapkan untuk tower. Tanpa pikir panjang,  saya potong sedikit bagian yang menutupi lubang. Tak apa, toh nanti ditutupi tower.
Asisten saya minta untuk mewarnai BC yg akan digunakan sebagai hiasan. Bolgul saya tusuk dengan tusuk gigi di sana-sini, supaya gulungannya tidak merekah terbuka. Lalu atas dan bawah saya beri impraboard juga supaya mau tegak.
Saya berusaha menyiapkan cake pengganti ini secepat mungkin. Bunda N dan Mbak C bolak balik telpon menanyakan. Bukan salahnya kalau mereka jadi panik juga tentunya..

Singkat cerita, cake dan tower terpasang. Saya buat hiasan dari buttercreamnya. Lalu saya minta asisten memasang topper dan pernak-pernik, selanjutnya menyiapkan cake-nya dalam box, sementara saya segera mandi (badan sudah ga enak rasanya karena keringat dingin, deg-degan, dan penampilan berantakan). Selesai mandi, taksi yang sudah saya telpon 30 menit sebelumnya belum datang juga. Sementara waktu sudah menunjukkan pukul 15.00.
Aduuuhh… saya berusaha tetap tenang, meskipun sudah jelas sekali saya sangat panik. Anak saya yang sejak tadi rewel karena belum tidur siang, saya serahkan pada asisten.  Mbak C sms, saya langsung jawab “Mbak, mohon tenang. Saya masih menunggu taksi yang sudah saya pesan sejak tadi. Apapun yang terjadi saya akan kesana mengantarkan cake ini. Saya akan bertanggung jawab.”

Jam 15.15 WIB, taksi baru tiba. Dia bilang jalanan macet parah. Dan untuk keluar dari daerah itu, saya harus melewati rute yang sedang macet tersebut.  Saya segera masuk taksi. Ayah saya minta untuk menemani. Asisten saya minta menjaga dan mengurusi anak saya yang masih berusia 2 tahun lebih dan menangis teriak-teriak ingin ikut. Aduuuhh.. miris hati saya mendengarnya, secara anak saya memang jarang sekali berpisah dengan saya.
Pukul 15.45 WIB, taksi masih terjebak macet, dan baru bergerak kira-kira 3 km dari rumah saya. Ternyata kemacetan berlanjut, maklum Malam Minggu, banyak orang pergi pelesiran. Kemacetan terjadi hingga ke Pintu Tol Bekasi Barat.
Oh ya, lupa saya ceritakan, lokasi saya di Tambun Utara, Bekasi, dan harus mengantar cake ini ke Mampang, Jakarta Selatan. Sepanjang jalan saya komat-kamit berdoa, membaca ayat kursi, beristighfar, memohon pertolongan Allah.

Pukul 16.10 WIB, kami baru masuk tol. Kali ini suami Bunda M, sebut saja Bapak G, yang bolak balik telpon., mencoba memberikan petunjuk jalan pada kami. Karena kedua tangan saya sibuk memegangi dan menjadi shock-breaker bagi box cake, telpon beberapa kali tidak bisa terangkat. Saya minta ayah saya menjawab telpon. Sudah pasti orangnya bolak-balik menanyakan posisi kami berada, secara pestanya pasti sudah mulai. Aduh ya Allah.. berilah kami pertolongan..

Keluar tol di Tebet, macet lagi. Memasuki daerah Mampang, sempat 2 kali dilarang belok kanan dan memutar arah oleh polisi yang berjaga (padahal biasanya boleh), sementara tempat untuk memutar selanjutnya cukup jauh dan macet sekali. Tentu saja ulah polisi ini membuat saya makin kesal dan deg-degan. Ya Allah.. Ya Allah.. tidak henti-henti saya berdoa....
Sedih sekali saya tidak bisa tiba tepat waktu dan mengacaukan acara. Pestanya pasti berantakan. Saya berkata pada supir taksi yang kebetulan masih tetangga dan ayah saya “Bapak-bapak tunggu di luar saja ya, biar saya yang masuk sendiri. Jadi kalaupun saya dimaki-maki, bapak-bapak tidak perlu merasa sakit hati karena mendengarnya”. Waktu itu sudah menunjukkan pukul 16.55 WIB.

Pak G ternyata sudah menunggu di depan jalan menuju ke daerah rumah yang dituju. Ternyata dari jalan itupun, masih harus masuk ke dalam jalan kecil yang tidak bisa dilalui mobil. Terpaksa saya keluar dari taksi, tangan kesemutan memegangi dan menahan berat cake selama 1 jam lebih.
Pak G lalu menolong saya membawa cakenya, dan berjalan cepat ke arah rumah mereka. Saya berlari kecil mengikuti. Tiba di rumah yang berulang tahun, pestanya sudah bubar. Anak-anak yang di undang sudah pada pulang.. Bahkan Baby M yang berulang tahun sudah tertidur kelelahan. Ya Allah.. saya merasa sangat-sangat malu, kecewa, sedih dan merasa sangat bersalah karena telah merusak pesta customer dan mengecewakan mereka.

Begitu masuk rumah, saya langsung meminta maaf pada siapapun yang ada di situ, yaitu keluarga Bunda N dan Bpk G. Bunda N yang baru saja selesai membagikan goody bag pada anak terakhir yang masih ada di situ, langsung saya salami, dan saya memohon maaf yang sebesar-besarnya. Terus terang saya benar-benar siap dimarahi dan dimaki-maki, karena kesalahannya sudah jelas ada pada saya sendiri, meskipun hancurnya cake itu adalah kecelakaan murni. Tapi saya pasrah seandainya nanti saya akan menghadapi kemarahan luar biasa dari customer yang kecewa ini.

Alhamdulillah… ternyata tidak ada satupun kata makian atau kemarahan yang keluar dari mulut keluarga itu. Malah mereka menyambut saya dengan baik, mempersilahkan saya duduk sambil saya berusaha menjelaskan apa yang terjadi. Bahkan saya disuguhi minum.
Walah...bahkan Mbak C (pemesan) dan Bunda N juga berusaha menghibur saya dengan mengatakan “Gak apa-apa, Bu..itu kan kecelakaan”. Dan lucunya, malah mereka ikut meminta maaf pada saya dengan mengatakan “Tadi kami ikut panik karena anak-anak para undangan (balita) sudah pada rewel tak sabar menunggu, jadi akhirnya kami berikan goody bagnya supaya mereka bisa pulang. Maaf ya, Bu..”

Subhanallah… inilah customer paling baik yang pernah saya temui. Sudah jelas-jelas saya kacaukan pestanya, saya antar cake yang tidak sesuai dengan spesifikasi pesanan, terlambat jauh dari waktu yang ditentukan, ternyata mereka masih bisa tersenyum dan dengan mudahnya memaafkan saya. Bahkan mereka meminta maaf karena telah memburu-buru saya.
Subhanallah… berkali-kali saya memuji kebesaran Allah karena mempertemukan saya dengan keluarga ini. Kalau dengan customer kebanyakan lainnya, kemungkinan besar saya sudah habis dimarahi..

Akhirnya saya pamit (setelah meminum habis air yang disuguhkan, sebagai peredam dag-dig-dug  jantung saya), karena ayah saya dan taksi masih menunggu (argonya pasti masih jalan). Saya minta Bunda N untuk memberikan nomor rekeningnya supaya saya bisa mengembalikan uang pesanan castle cake yang sudah dibayarkannya sebelumnya.
Dia bilang tidak usah dikembalikan. Tapi saya memaksa, karena memang sudah saya niatkan seperti itu. Bunda N bilang, jangan dikembalikan semua, dia bersedia membayar harga cake pengganti yang berhasil saya antarkan itu.
Saya bilang, cake pengganti tidak usah dibayar, anggap saja sebagai hadiah saya untuk ultah Baby M dan menebus kesalahan saya. Tapi Bunda N memaksa. Okelah, saya katakan saya akan kembailikan 50% harga cake + ongkirnya. Bunda N setuju dan mengucapkan terima kasih pada saya.
Lho?? Saya yang masih berkali-kali meminta maaf. Lalu saya pulang dengan hati legaaa.
Alhamdulillah, paling tidak saya tidak pulang dengan hati sedih karena dimaki-maki, meskipun tetap masih ada perasaan bersalah mengganjal. Dan saat pulang itulah, baru saya merasa sangat lapar dan sadar, bahwa makanan terakhir yang masuk ke perut saya adalah semangkuk mi instan rebus pada jam 6 pagi hari itu.

Saya BBM perusahaan kurir langganan, memesan utk delivery cake Hari Senin ke alamat Bunda N. Saya berniat untuk mengirimkan cake sebagai ucapan terima kasih atas kebaikan mereka yang dengan sangat mudah memaafkan saya dan memahami situasi yang menimpa saya, tanpa sedikitpun mencela saya.
Terima kasih telah menghapuskan stres saya sejak “accident” numplek-nya cake pesanan mereka. Kurir utk Senin sudah penuh. Jadi saya pesan utk Hari Selasa, jam berapa saja. Kurir setuju, pick-up akan dilakukan pukul 12.00 WIB Hari Selasa.

Singkat cerita (wah, dari tadi sudah terlalu panjang nih..), Hari Selasa akhirnya terkirimlah Red Velvet Cake buatan saya ke rumah Bunda N. Hingga sore, saya belum mendapat berita apapun mengenai keberadaan cake tersebut, tapi saya percaya kurir langganan saya tentunya sudah mengantarkan cake tersebut dengan baik.
Malam, saya baru memperoleh SMS dari Bunda N, mengatakan cake-nya sudah diterima. Dia baru tahu karena seharian dia bekerja. Dia mengatakan jadi merasa “tak enak hati” karena membuat saya repot-repot mengirimkan RVC itu, dan dia berterima kasih.
Saya bilang, cake itu sebagai ucapan terima kasih saja atas kebaikan mereka memaafkan saya. Bunda N Bilang “Jangan kapok ya, Bu Yulinda, lain kali saya akan order lagi ke Ibu.” Ha..ha.. saya tertawa dan bilang “Bunda yang jangan kapok berurusan dengan Falissa Cake ya.. Terima kasih..”

Tak berapa lama, Mbak C juga SMS, mengatakan baru saja diantarkan cake RVC oleh Bunda N ke rumahnya (kemungkinan rumah mereka berdekatan), rasanya enak sekali, dan mereka semua menyukainya. Mbak C juga berterima kasih, dan mendoakan kesuksesan selalu utk saya dan bisnis saya, dan berjanji akan memesan cake lagi pada saya. Alhamdulillah…
Oh ya, sesuai rencana, uang Bunda N sudah saya kembalikan pada Hari Seninnya. Sungguh tidak ada maksud apa-apa dengan saya mengembalikan uang tersebut, selain sebagai bukti komitmen saya untuk memberikan kepuasan kepada customer. Dan karena saya gagal memberikan kepuasan itu, saya merasa tidak pantas untuk dibayar.

Inti dari cerita ini adalah :
1. Jangan pernah menyerah meskipun dalam keadaan terdesak. Berusahalah dan lakukan sebaik mungkin yang kita bisa
2. Jangan pernah malu meminta maaf dan mengakui kesalahan, lalu berusahalah sekuat tenaga memperbaikki kesalahan itu. Kalaupun dimarahi, terima saja dengan lapang dada kalau memang itu kesalahan kita. Kecuali kalau kesalahannya bukan terletak pada kita, maka kita memilikki hak untuk membela diri, tentu dengan cara yang baik pula. Bertangung jawab atas kesalahan kita akan memberikan perasaan lapang dan lega. Meskipun mudah saja saya lari dari kesalahan saya (karena saya dan customer tersebut tidak saling mengenal sebelumnya, tidak tahu rumah masing-masing tidak ada kontrak apapun) tapi tentunya perasaan bersalah akan menghantui saya selalu, sadar atau tidak sadar.
3. Jangan pernah ragu dengan kebesaran Allah swt. Bahkan dalam keadaan sulit sekalipun, ternyata hikmah yang bisa kita ambil sangatlah besar. Saya memang rugi materi, waktu, tenaga. Tapi di balik itu, Allah telah mempertemukan saya dengan keluarga yang baik ini, yang mengajarkan kepada saya bahwa memaafkan kesalahan orang lain tidaklah sulit, dan malah memberikan lebih banyak keuntungan daripada marah-marah dan membenci.
4. Lebih berhati-hati dalam handling cake atau pekerjaan apapun, meskipun kita dalam keadaan terburu-buru sekalipun
5.  Kepercayaan customer adalah hal yang paling berharga bagi kita bakul rumahan, oleh karena itu kita harus menjaganya dengan sebaik-baiknya

Sekian curhat saya, maaf kalau terlalu panjang dan menghabiskan waktu teman-teman semua. Terima kasih bagi yang sudah membacanya, semoga bisa menjadi pelajaran bagi kita semua. 


Salam,
Yulinda
(Falissacake.com)

8 comments:

NOVI'S CORNER said...

Dear Yulinda, aku juga ikut2an sport jantung baca tulisanmu. What a day it must have been!! Sometimes there are days in ourlives when everything went wrong yaa. Salut untuk Yulinda!

Yulinda said...

Dear Mbak Novi,
Betul, Mbak.. when those "all wrong" days come, even the nature seems to take part in making it happen..

Alhamdulillah saya tidak sampai nangis bombay waktu itu, karena saya percaya, selama saya masih punya tenaga dan doa, saya masih punya kesempatan untuk memperbaiki kesalahan.

Alhamdulillah, semua berakhir baik, meskipun tidak seperti yang kita inginkan.

silvia said...

haduh ikut campur aduk baca ceritanya mba....deg degan sedih, terharu, seneng klop deh sampe berkaca2 nih waktu pas bagian cakenya tumplek...hebat deh bisa keluar dari sikon seperti itu. sukses terus mba *hugs

Santi Rosmala said...

Ceritanya sangat menyentuh banget, sampe aku ikutan panik dan berlinang air mata, hehehe.... Tapi dari cerita ini juga aq belajar untuk mampu tegar, tidak mudah menyerah dan selalu semangat...
Sukses ya mba, semoga Allah Melindungi,, Amiin.. ^_~

FaLiSsa Cake said...

@ Mbak Silvia & Mbak Santi.. Amiin.. makasih doa-nya. Semoga kita semua bisa terus maju bersama-sama..

Unknown said...

Dear Mba Yulinda,

Sumpaaah aq jadi ikut deg2 an juga, sampee ulu hatii ikutan sakiit (selalu ngerasa seperti ini klo panic).
Alhamdulillah akhirnya baiiik, semoga gak akan terjadi lagi yach mba, dan sukses terus utk bakul rumahannya.

BundaTia said...

ikut tegang baca pengalamanmu mba Yul.. moga tambah sukses ya falissa cake, dan tambah kuat menghadapi perjalanan berikutnya.. Aamiin..
-Balkis-

Ardiana Poppy said...

hua....mba Yulinda aku jadi inget waktu aku terima pesanan pertama bolu kukus..hikss dah mau nangis juga rasanya..pada saat coba2 bolu kukusku mengembang dengan sempurna sampai ada yang pesan..tapi pas hari H buat tuh bolu gulung bantet semuaaa gk tau kenapa apa yang salah...mau nangis rasanya...tapi aku sambil berdoa dan berdoa..tepat jam stgh 6 berhasil pesenannku..walaupun gak mengembang dengan sempurna..udah aku beranikan diri untuk tetep anter tuh bolkus..pas jam 6 acaranya mulai...dan katanya enak...cuma kurang mengembang...ya ampun..ternyata gak cuma aku ya yang pernah mengalami hal ini...aku baru banget mau memulai usaha ini...dan baca blog mba jadi tetep semangat walaupun ada hal2 kejadian diluar kemampuan kita..makasih ya mba dah inspirasiin...salam kenal