Monday, 9 April 2012

"Hanya" Penjual Nasi Kotak-kah Saya?

Mimpi akan masa depan membuat kita semangat,
Bayangan akan keberhasilan membuat kita tidak mudah mundur,
Kesadaran akan sesuatu yang besar biasanya dimulai dari sesuatu yang kecil membuat kita tak mudah menolak....
Kenyataan akan ada Allah yang tidak pernah tidur membuat kita selalu berikhtiar,
Keikhlasan dalam berusaha akan membuat kita senantiasa memberikan yang terbaik,
Visi dan keyakinan akan keberhasilan yang dijanjikan Allah bagi umat-Nya yang selalu berusaha akan membuat kita survive...

***

Mungkin sebait tulisan di atas yang menggambarkan kejadian di bulan Ramadhan beberapa tahun lalu. Hmmm...waktu itu Rakha anak saya belum genap setahun, masih menyusu dia. Salah seorang sahabat saya meminta tolong untuk membuat nasi kotak untuk berbuka puasa bersama di masjid komplek rumahnya di Tebet.

Awalnya dia memesan 45 box nasi kotak untuk acara masjid. Selang beberapa hari kemudian, dia menanyakan apakah saya sanggup untuk mengerjakan 100 box nasi kotak sekalian untuk diberikan bagi kaum dhuafa. Di pikiran saya tadinya yang 45 itu sudah termasuk di dalam 100 box, maka saya iyakan.

Ternyata, ketika dikonfirmasi sahabat saya bilang, bukan, jadi total pesanan 145 box. Fuiiih....100 box saja saya agak bingung mengerjakan, maklum bakul sangat amatir, belum punya asisten tetap pulak. Tapi karena merasa ini adalah tantangan besar bagi saya, maka saya memutuskan untuk pantang menolak pesanan...:)

Beberapa hari kemudian, sahabat saya sms lagi menanyakan apakah saya masih bisa menerima sekitar 10 box lagi sekalian untuk diberikan kepada keluarga para asisten rumah tangga dan supir keluarga..Hmmm..kepalang tanggung, boleh lah sekalian saja....:). ***modalnekatdotcom.

Mulailah saya berpikir bagaimana me manage pesanan sebanyak ini. Hehehehe..jadi malu nih sama para bakul senior yang kalo cuma seratusan gini mah masih ecek-ecek mengerjakannya. Buat saya berat selain karena minim pengalaman, juga itu tadi, saya tidak punya asisten yang bisa membantu kecuali suami tercinta yang selalu bisa diandalkan minimal untuk menemani belanja, atau bahkan belanja barang-barang yang terlupa, menjadi supir/kurir dadakan sampai membantu menggoreng kerupuk atau menggoreng ayam. I love you, suamiku....(lhooo...kok malah kaya' tulis surat buat suami nih...hehehhehe....)

Anyway, lanjut ke cerita nasi box tadi. Akhirnya saya memutuskan untuk meminta bantuan asisten harian saja. Kebetulan ada dua orang teman mengaji yang bersedia membantu dan berjanji akan datang sekitar jam 08.00 pada hari H. Alhamdulillah, sedikit banyak lega, at least ada yang membantu untuk menyusun nasi and the gank ke kotak, karena biasanya justru itu yang memakan waktu paling banyak dan yang jelas paling ribet menurut saya.

Dua hari menjelang hari H, saya sudah belanja, membuat kotak-kotak nasi, menggoreng kerupuk (eh itu suami dink..:D), dan membungkusnya. Mempersiapkan sendok garpu dan lain-lain sebagai supporting tools di nasi kotak..:). Sampai sini saya merasa semua lancar-lancar saja, dan terus terang pede jaya menyambut datangnya hari H.

H-1, saya mulai menyiapkan bumbu-bumbu, potong-potong, tumis-tumis bumbu, ukep mengukep ayam. Untuk sayur, buah, telur dan urusan menggoreng, saya pikir cukup lah ketika hari H sehingga rasanya masih oke.

Hari H dini hari. Sekitar jam 01.00 saya mendengar ada suara penggorengan di dapur. Ketika saya cek, suami saya sudah mulai menggoreng ayam...Subhanallah....Memang tak ada bandingannya deh suamiku ini...:). Dia minta saya tidur lagi, supaya Rakha tidak menangis karena tidak ada orang tuanya, sekalian menyimpan energi untuk kerja keras hari ini.

Sekitar jam 03.00 saya bangun dan menyiapkan makan sahur dan siap-siap minum dopping madu, sari kurma dan lain-lain untuk persiapan kerja rodi hari ini. Saya ketika itu bersikeras tetap puasa walaupun ada rukshoh untuk ibu menyusui, tapi saya yakin saya kuat berpuasa. Setelah sholat subuh, mulailah kerja rodi saya hari itu.

Dimulai dari merebus telur dan menyiapkan bumbu bali (saya baru belajar ketika itu bahwa bumbu bali bisa diinapkan di kulkas sehingga bisa save energi di hari H dan malahan terasa lebih enak dibanding dibuat mendadak seperti yang saya lakukan hari itu).
Mengupas dan menggoreng telur tak dinyana memakan waktu cukup lama karena saya juga masih harus memandikan Rakha dan menyusuinya. Ada satu asisten rumah tangga di rumah yang saya minta konsentrasi untuk menemani Rakha dan ketika Rakha sedang bersama saya, maka tugasnya adalah mencetak nasi. :)

Oh yah, sekitar jam 06.00 pagi salah satu asisten cabutan sms mengabarkan bahwa dia "mundur" karena migrain...Saya masih tenang karena Insya Allah saya masih yakin dapat mengerjakan dengan bantuan satu asisten yang lain. Jam 08.00 pagi, teman saya belum datang juga. Akhirnya saya telphone, dan dia bilang, dia minta maaf tidak bisa datang karena ada ibu mertuanya datang jadi harus menemani, dan minta maaf juga karena tidak bisa mengabari saya karena pulsanya habis....

Hiks....rasanya mau marah, sebel, kesel, yang paling dominan sih ingin menangis sangat......Tapi mau menyalahakan siapa sebenarnya? Semua punya alasan yang tidak bisa ditolak kan?

Tapi saya tahu, amanah tetap amanah. Harus dikerjakan walaupun babak belur. Saya sempat telphone suami di kantor untuk curhat, dia meminta saya bersabar dan fokus sama pekerjaan saja, jangan pada kekecewaan. Suami saya juga mengingatkan akan rukshoh puasa yang bisa saya dapatkan ketika nanti saya merasa tidak kuat secara fisik untuk terus berpuasa. Saya mendapat suntikan semangat baru dan mulai mengerjakan dan yakin Allah pasti membantu.

Jam 12.00 siang, makanan sudah siap semua. Ah gampanglah. Tinggal dimasukkan ke kotak.... Dengan pengalaman minimal, karena biasanya cuma menerima paling banyak 50 box, saya tidak terlalu sadar bahwa 155 adalah 3 kali nya 50 box, jadi yah pastinya makan waktu jauh lebih banyak. Alhasil, ketika jam menunjukkan pukul 14.00 dan ternyata baru setengah pesanan yang selesai, saya mulai ingin menangis lagi. Tubuh yang mulai lemah, haus, Rakha yang rewel minta saya menemani dan menyusuinya membuat saya mau berteriak saja..
Aaaaaaaaahhhhhhhhhhh........

Jam 15.00 akhirnya semua selesai, tinggal dimasukkan ke mobil dan cap cus meluncur ke Tebet dari rumah saya di Joglo. Sedikit bisa bernafas lega lah saya. Sahabat saya minta jam 17.00 nasi kotak nya sudah ada di sana, biar ada waktu untuk membagikan pada kaum dhuafa. Saya pikir 1 jam lah paling lama sampai ke sana. Saya sempatkan untuk mandi sekadar untuk memberi energi baru bagi tubuh saya, dan menyusui dan memompa ASI untuk Rakha sebelum saya berangkat menuju Tebet.

Tepat pukul 15.30 saya siap berangkat. Kok ya dilalah, ternyata masih ada lagi ujian yang diberikan Allah...AC mobil saya mati...huaaaaaaaaaa.......Dan entah kenapa di sore hari ini, matahari sangat bersahabat dan rasanya ingin bermesraan dengan saya....panasss terik seperti jam 12.00 saja layaknya. Belum lagi Jakarta yang rasanya tidak ingin saya hanya sebentar berada di jalanannya, saya terjebak macet berkali-kali. 
Dengan keringat mengucur deras, rasa lelah yang luar biasa, kemarahan kepada semua situasi yang tidak mendukung membuat saya lagi-lagi ingin menangis. Saya sempat menanyakan ke diri saya sendiri, dapat ide darimana saya kalau perjalanan hanya akan makan waktu sekitar satu jam. 
Akhirnya saya sadar, saya biasa berangkat ke rumah sahabat saya itu dulu dari rumah Kebon Jeruk, nah biasanya dari rumah Kebon Jeruk menuju Tebet cuma sekitar segituan waktunya. Saya lupa, Joglo-Tebet dengan Kebon Jeruk-Tebet jelas jauh berbeda. Titik macetnya jauh lebih banyak.

Di tengah kemacetan ibukota itu lah saya bicara pada Allah, "ya Allah, segininya yah berusaha cuma untuk mendapatkan uang ratusan ribu....". Terbayang ketika saya masih kerja di kantor, dengan baju yang fancy, ruangan ber AC, tempat kerja yang nyaman, supir yang membawa mobil ketika ada urusan luar kantor, gaji yang digitnya sangat jauh berbeda dari bakul amatir begini, fuiiiiiiiiiiiiih rasanya marah, entah marah pada siapa...

Ketika sesuatu berjalan di luar rencana awal kita, memang lebih mudah bagi kita untuk marah, menyalahkan keadaan, dan menyesali diri. Tapi ketika akhirnya saya mulai tenang dan sambil istighfar, pertolongan Allah pun datang. 
Tiba-tiba saya mulai membayangkan Rakha yang lucu, sehat, dan alasan saya yang utama memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga dan bekerja apa saja asalkan bisa tetap menemani dan mengikuti perkembangan Rakha detik demi detik. Tak lama kemudian bayangan tentang Rakha berganti dengan bayangan sebuah cafe atau wedding organizer yang cateringnya juga ada di bawah kendali saya suatu hari nanti. 

Membayangkan sekumpulan keluarga harmonis yang menikmati kebersamaan di restoran milik saya yang nyaman sebagai pengembangan dari usaha catering rumahan saya. Banyak keluarga yang nantinya memiliki peluang kerja dari usaha yang saya miliki akhirnya membuat saya mulai tersenyum. AC yang rusak pun tak lagi menjadi sesuatu yang membuat saya marah. Jalanan yang masih tetap macet pun tidak membuat saya kemerungsung. 

Saya tetap lelah, saya tetap merasa sangat haus...(yah ibu menyusui kalo puasa menurut saya lebih berat daripada berpuasa ketika hamil), tapi saya tidak lagi marah dan melihat yang saya usahakan dari rupiah yang saya dapatkan ketika itu. Energi dan semangat yang tersuntikkan dari mimpi dan keyakinan akan keberhasilan dari sebuah usaha yang tanpa henti membuat energi saya ter-boost ke posisi tertinggi.

Apalagi ketika akhirnya saya sampai di rumah sahabat saya juga, walaupun memang terlambat 5 menit dari waktu yang saya janjikan. Dan lagi-lagi suami saya yang luar biasa itu sudah menunggu di sana (catatan, kantor suami saya ketika itu di MT Haryono) untuk membantu mengangkat nasi-nasi box tadi dari mobil, yang saya yakin bisa jadi untuk melakukan hal sekecil itu pun saya sudah sempoyongan karena tubuh saya benar-benar lelah dan kekurangan energi plus kaki yang gemetaran karena kebanyakan injak kopling.

Ketika semua nasi box terdeliver, tak terkira rasanya gembiranya hati ini. Suami convoy (suami naik motor) di samping mobil saya dalam perjalanan pulang kembali ke rumah. Sesenang-senangnya dan selega-leganya, tubuh saya memang tidak bisa disembunyikan kelelahan yang amat sangat nya. Ditambah dengan lagi-lagi si AC yang rusak itu melengkapi kelelahan saya sore itu, hingga saya meminta untuk beristirahat sambil menunggu maghrib di masjid di daerah Pejompongan (masih halfway to go to home).

Setelah berbuka puasa, walaupun hanya dengan sebotol teh dan sebotol air putih, tubuh pun kembali segar. Setelah sholat maghrib, kami melanjutkan perjalanan pulang dengan perasaan yang tak bisa didefinisikan. Di situ saya sadar penuh, sampai kapan pun pengalaman hari itu tidak akan pernah saya lupakan. Bukan hanya soal kelelahan yang luar biasa. Tapi lebih kepada pelajaran hidup.

Hidup ini bukanlah sekadar rupiah yang kita hasilkan ketika itu. Tapi lebih kepada semangat yang tak boleh mati, dan mimpi akan masa depan yang jauh lebih baik, target, visi dan keyakinan akan keberhasilan dengan usaha yang tak putus yang membuat saya (baca: kita semua) akan survive. Allah ma'ana.....(Allah bersama kita)


Jakarta, 9 April 2012
Tetap menganggap diri bakulan walaupun tidak pernah menawarkan produk. :)
-Poppy-

6 comments:

silvia said...

selamat sudah melewati fase tersebut yah mba....smoga lancar usahanya kecup2 untuk rakha :)

justyusti said...

baca postingan mba poppy sambil berkaca2 mata ini.. hiks. salut, Mbak bisa menyelesaikan semua tugas sebagai seorang ibu rumah tangga dengan baik! alhamdulillah yang gak terkira tuh mbak punya suami yg segitu mendukungnya. semangat terus ya Mbaa.. :)

Lilik Handayani said...

ngrosluar biasa mb...
sampe nangis saya bacanya...
moga sukses terus ya mbak..cubit sayang buat rakha

Lina Basuki said...

salut mbak..jadi terinspirasi..juga termotivasi....berkaca2 membaca postingan mbak...

Rahma Nuzulia said...

Masya Allah... sampai terharu dan berkaca -kaca bacanya. semoga berkah ya mba...

Unknown said...

Saya down hari ini...trm ksh mama Rakha membuat saya mencoba bangkit..sukses buat Mama Rakha.....