Tuesday, 11 June 2013

Awal Sebuah Perjalanan


Sebenarnya saya sudah lama sekali ingin bercerita, tetapi karena penyakit “M” alias malas yang sudah stadium 4 terus merajalela, tetapi akhirnya dengan dorongan dari ibu saya dan juga dorongan hati, akhirnya jadi juga deh ceritanya…. Jadi begini ceritanya….
 
Saya mantan mahasiswi perhotelan yang lebih memilih kerja kantoran daripada kerja di hotel atau pun restoran. Dikarenakan jam kerja yang lebih nyaman dan libur di hari sabtu dan minggu. Ternyata setelah menggeluti dunia kerja kantoran, rasanya mau kembali ke hotel atau restoran karena memang disitu lebih nyaman dan lebih terasa lebih fun aja. Ooopppss, tapi disini saya tidak mau menceritakan tentang pekerjaan saya, namun lebih kepada perjalanan hidup saya dari kerja sama orang hingga akhirnya memutuskan untuk menggeluti usaha bakulan.
 
Awalnya kenapa saya memutuskan untuk membuka usaha bakulan, itu juga karena waktu itu saya sudah “desperado” (bukan lagunya eagle loh) alias putus asa karena pada waktu saya memutuskan untuk berhenti kerja tetapi lapangan kerjaan baru tidak kunjung datang juga. Atas dukungan dan dorongan ibu saya, akhirnya saya memutuskan untuk mencoba membuat makanan, debut bakulan saya waktu itu adalah macaroni panggang. Setelah try out resep (kayak anak sekolah ya pake ujian try out, hehe) macaroni panggang, saya iseng kasi ke sodara saya untuk dicoba. Ehh,, taunya dia malah sebarkan ke teman-temannya di sekolah. Akhirnya berbuah hasil deh, dari situ pesenan mulai berdatangan (kayak semut kalo dikasi gula).
 
Saya dan ibu saya merupakan kaum minoritas di keluarga kami. Gak tau juga ya kami itu salah apa, tapi pastinya kami selalu dipojokan, dan pasti selalu ada omongan yang gak enak dari sodara kami, yang bisa kami lakukan hanyalah menghela napas dan berdoa untuk mereka supaya bisa berubah (terutama ibu saya yang orangnya paling sabarrrrr baanngggeett deh, beda dengan anaknya yang selalu panasan kayak kompor meledug, hehehe). Apalagi pada saat saya tidak kerja alias pengangguran, wahh banyak banget deh omongan yang menyakitkan hati, seperti disayat-sayat pisau rasanya (aduhh pujangga banget ya bahasanya). Lalu semuanya itu berangsur berubah dengan seiringnya pesanan saya bertambah banyak, bisa dibilang dari seminggu cuma 1x ada orderan, hingga seminggu bisa 3-4x ada orderan (kayak minum obat ya,,).
 
Ada kejadian aneh sekaligus lucu pada waktu itu, dimana saya sedang mencari-cari pekerjaan lewat internet maupun koran, sodara saya hanya bertanya,” mau pekerjaan tidak?” ya pastinya saya jawab boleh dong. Lalu dia meminta alamat email saya dan menjanjikan untuk memberikan kabar lewat sms ataupun telepon. Tetapi semuanya itu hanyalah janji belaka saja. Lalu setelah dia tahu kalau saya sedang memulai usaha bakulan saya, anehnya saya mulai ditawari pekerjaan. Tentunya saya dan ibu saya bingung, “loh kok orang udah mulai usaha kenapa baru ditawari kerjaan”. Ya, saya coba untuk merespon dengan baik, dengan mengirimkan CV saya, itung-itung iseng-iseng berhadiah lah saya pikir. Lumayan kan jadi double income gitu (namanya juga manusia pasti gak ada puasnya ya). Darisitu memang ada beberapa panggilan, tetapi ya seperti yang sudah-sudah, proses selanjutnya pun tidak kunjung datang. Akhirnya saya memutuskan untuk fokus di usaha bakulan saya. Mungkin memang sudah diberikan jalan sama Tuhan kali ya.
 
Tentu saja cobaan itu tidak berhenti begitu saja, pasti ada lagi ada lagi. Waktu itu saya mulai dilemma, antara mau kerja atau bakulan. Karena waktu itu ditawari kerja di luar negeri. Memang kerja di luar negeri adalah keinginan saya sejak saya masih kuliah, lebih tepatnya setelah saya pulang training dari Malaysia. Memang gak enak ya si “dilemma” ini, mau bakulan iya, tapi keluar negeri juga iya. Saya juga punya cita-cita punya usaha sendiri yang tentunya bergerak di bidang makanan, dan saya juga berpikir kalo memang mau serius di bisnis ini, harus dimulai dari sekarang. Setelah melalu proses kebingungan dan ke-dilemma-an, akhirnya saya coba berdiskusi dengan ibu saya dan teman dekat saya juga. Menurut ibu saya, coba aja diambil, kan bakulannya tetap bisa dijalani oleh ibu saya, sedangkan teman saya juga berpendapat yang sama, untuk dicoba aja (aduh coba-coba, emang makanan apa. Kalo ga enak tinggal kasi bumbu atau buat baru, ini kan bukan makanan masalah hidup dan mati nih,, bingung tingkat tinggi). Ya udah setelah pikir-pikir, ya saya coba deh kasi CV-nya. Tapi ya tetep terus terima orderan dong. Mungkin memang saya udah kebal sama yang namanya tolakan atau bahasa halusnya, tidak ada kelanjutan proses lamaran, ya udah berlalu begitu aja, secara orderannya datang terus kayak air mengalir dari tempat tinggi (nyanyi-nyanyi kayak iklan aqua jaman dulu).
 
Usaha bakulan saya, tentunya terus berjalan, tapi ada kendala lain waktu terima orderan macaroni cukup banyak yaitu warna kurang kuning keemasan alias golden brown (bukan merk pewarna atau es krim magnum ya), karena waktu itu saya masih menggunakan oven jadul alias oven otang, yang masih bebahan bakan minyak tanah. Jujur saya gak bisa loh manggang dengan oven otang ini. Karena takut jatoh ovennya saat diletakkan diatas kompor minyak tanah. Tentunya saya berguru dengan ibu saya yang udah mahir banget buat kue, tetapi lebih memilih kerja dan buat kue hanya untuk sambilan. Ibu saya punya sebutan tersendiri yaitu “penjual kue musiman”. Ya karena memang dia lebih banyak terima orderan saat musim lebaran dan musim-musim yang lain kalo memang ada. Ok, back to topic ya. Setelah dipikir matang-matang dan dengan dana yang seadanya akhirnya kami memilih untuk membeli oven gas bekas. Karena menggunakan oven otang, lumayan buang waktu, tenaga, dan biaya. Setelah di try out oven gasnya, lumayan berbuah hasil, dari situ orderan macaroni ataupun orderan kue lainnya datang terus. Puncaknya pada saat lebaran kemarin. Memang usaha bakulan ini menjanjikan kalo memang mau di seriusin. Wong, saya mulai dari nol untuk masalah buat adonan kue, masak, manggang dan kawan-kawannya, saya jadi bisa, dan semua itu memang berbuah hasil. Tadinya saya gak punya oven gas jadi punya, trus yang tadinya ga punya “bebeh” alias blackberry akhirnya jadi punya.
 
Pernah saya berpikir kalo ibu saya itu malu punya anak seperti saya, yang kerjanya cuma malas-malasan dirumah, tetapi setelah saya bertanya dia tidak pernah malu, malah dia terus berusaha untuk membuat saya pintar dengan memberikan kursus kue dan semangat untuk terus maju. Memang saat ini saya masih dibantu oleh ibu saya dan beliau masih tetap sambil kerja. Tapi saya ingin dia benar-benar berhenti kerja dan ikutan fokus bersama saya di bakulan ini.
 
Memang hidup yang kita jalani hanyalah titipan dari Tuhan, semuanya bisa Dia ambil kapan saja dan bisa dirubah kapan saja apabila memang umat-Nya mau dekat dengan-Nya dan terus memuji Dia, dan tentunya berusaha. Semuanya pasti akan diberikan oleh-Nya. Hidup ini memang sulit dan rumit, tetapi dengan kita selalu berusaha, berdoa, dan tetap menjalankan apa yang ada tanpa mengeluh dan melihat ke belakang, semuanya pasti ada jalannya, dan semuanya pasti dimudahkan jalannya... Mudah-mudahan kedepannya saya bisa lebih rajin lagi karena modal bakulan adalah rajin, belajar dan berdoa.
 
Jakarta, 28 December 2012.
Tetap terus berusaha untuk mewujudkan cita-cita menjadi seorang bakulan yang sukses.
-Angel-

2 comments:

Evi Uliartha said...

Lagi down bgt. Orderan ga ada yang masuk. Contrast dengan bulan Desember lalu, bulan banyak order cookies yang membuat saya sibuk sekali. Suami dan keluarga udah pada nyindir, dan menyatakan kerja seperti bakulan ga menjanjikan Sementara Saya udah muak dengan pemberi kerja yang banyak peraturan dan sanksi bila anak saya sakit dan saya kekeh ga hadir sehari aja...
Nemu tulisan ini...
Trims :)

Angelia Novincy said...

Eh namanya sama
Kisahnya juga sama
Sering banget nih dilema kaya gini

Tapi jadi semangat lagi gegara cerita ini
Ditunggu cerita berikutnya yaaa